<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Vindre's Weblog</title>
	<atom:link href="http://vindre.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vindre.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Nov 2007 05:22:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='vindre.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Vindre's Weblog</title>
		<link>http://vindre.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://vindre.wordpress.com/osd.xml" title="Vindre&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://vindre.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>D.	Informasi 4 : manajemen media</title>
		<link>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/dinformasi-4-manajemen-media/</link>
		<comments>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/dinformasi-4-manajemen-media/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 05:22:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vindre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/dinformasi-4-manajemen-media/</guid>
		<description><![CDATA[Manajemen media massa perlu ditingkatkan Samarinda, Kompas &#8211; Belanja masyarakat Indonesia untuk media cetak saat ini masih sangat rendah. Data yang dimiliki Serikat Penerbit Surat Kabar menunjukkan, masyarakat Indonesia lebih banyak membelanjakan uang untuk membeli rokok dibandingkan membeli media cetak. Hal itu juga menunjukkan, pemasaran yang dilakukan perusahaan rokok jauh lebih berhasil dibandingkan dengan perusahaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vindre.wordpress.com&amp;blog=1968899&amp;post=7&amp;subd=vindre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="padding:0 9pt;" align="left" valign="top">
<h3><a href="http://mediacare.blogspot.com/2007/02/manajemen-media-massa-perlu.html">Manajemen   media massa perlu ditingkatkan</a> </h3>
<p>Samarinda, Kompas &#8211;   Belanja masyarakat Indonesia   untuk media cetak saat ini masih sangat rendah. Data yang dimiliki Serikat   Penerbit Surat Kabar menunjukkan, masyarakat Indonesia   lebih banyak membelanjakan uang untuk membeli rokok dibandingkan membeli   media cetak. Hal itu juga menunjukkan, pemasaran yang dilakukan perusahaan   rokok jauh lebih berhasil dibandingkan dengan perusahaan media massa.</p>
<p>&#8220;Empat tahun lalu kami menemukan fakta, spending untuk surat   kabar Rp 4,9 triliun per tahun. Spending untuk rokok Rp 150 triliun per   tahun,&#8221; kata anggota Serikat Penerbit Surat Kabar Leo Batubara dalam   Konvensi Nasional Media Massa di Samarinda, Kamis (8/2).</p>
<p>Konvensi digelar dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang akan   digelar hari Jumat ini. Menurut rencana, peringatan HPN ini akan dihadiri   Wakil Presiden Jusuf Kalla.</p>
<p>Leo menambahkan, kemampuan memasarkan media cetak tidak terlepas dari kondisi   manajemen media massa. Dua tahun   lalu, misalnya, hanya 30 persen media massa   yang dinilai sehat secara bisnis.</p>
<p>Dalam kesempatan itu, Direktur Utama TransTV dan Trans7 Ishadi    SK menyampaikan 10 kiat yang dapat   digunakan untuk mengatasi kelemahan manajemen media cetak dan media   elektronik. Kiat-kiat tersebut antara lain perlu melakukan studi pasar yang   komprehensif dan mendalam agar perencanaan bisnis akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Jika harus mencari investor, katanya, haruslah dicari yang memiliki visi dan   misi sesuai dengan medianya. Media massa   juga harus berani mengambil peluang usaha dengan memanfaatkan teknologi   informasi serta konsisten meningkatkan kualitas.</p>
<p>Pengajar Ilmu Komunikasi dari Universitas Gadjah Mada Amir E Siregar   menyatakan, media massa bisa   dibedakan menjadi media yang berorientasi bisnis dan yang punya misi   perjuangan/idealisme. Meski demikian, keduanya tidak bisa dipertentangkan   karena media di Indonesia   adalah perjuangan dengan konsekuensi bisnis. (BRO/YNS) </p>
<p><a href="http://mediacare.blogspot.com/2007/02/manajemen-media-massa-perlu.html">http://mediacare.blogspot.com/2007/02/manajemen-media-massa-perlu.html</a></p>
<p>google,11/5/2007 10:19:25 </p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span class="txttagline"><span style="font-size:14pt;">Manajemen   Maskapai Rendah </span></span><span style="font-size:14pt;"><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--><span class="bodytext01"></span></span></p>
<p><strong>JAKARTA</strong><strong>,   KOMPAS &#8211; Sebagian besar manajemen maskapai penerbangan di </strong><strong>Indonesia</strong><strong>   dinilai masih memiliki pengalaman dan pengetahuan yang rendah mengenai   prosedur penerbangan. Kondisi ini sangat berisiko mengingat pengaruh kebijakan   manajemen terhadap proses penerbangan sangat besar. </strong></p>
<p>Pengamat penerbangan   Yaddy Supriyadi, Selasa (2/1) di Jakarta,   menjelaskan, banyak direksi baru di industri penerbangan yang tidak memiliki   pengetahuan dan pengalaman yang cukup dalam dunia penerbangan. </p>
<p>&#8220;Padahal,   pengetahuan mengenai prosedur penerbangan harus dimiliki semua pihak yang   terkait dengan penerbangan. Human factors juga tidak hanya menyangkut   individu pilot yang menerbangkan pesawat, tetapi juga manajemen penyelenggara   penerbangan, airline, dan lingkungan kerja secara luas,&#8221; kata Yaddy. </p>
<p>Menurut dia,   peningkatan pengetahuan manajemen maskapai terhadap prosedur penerbangan   harus menjadi prioritas guna menekan angka kecelakaan pesawat terbang yang   cukup marak terjadi di Indonesia.   Terakhir adalah hilangnya pesawat AdamAir rute penerbangan   Jakarta-Surabaya-Manado dengan nomor penerbangan KI 574, Senin, pukul 15.07   waktu Indonesia   tengah. </p>
<p>Yaddy menjelaskan,   dalam dunia penerbangan sudah ada kebijakan dan prosedur yang disusun secara baku.   Prosedur-prosedur tersebut seharusnya tidak dilanggar karena bisa berakibat   fatal. </p>
<p>Namun, karena minimnya   pengetahuan mengenai hal tersebut, manajemen kerap melanggarnya. Padahal,   dalam dokumen human factors, organisasi dan manajemen telah disebutkan bahwa kontribusi   tindakan dan pernyataan direksi terhadap kecelakaan pesawat tidaklah kecil. </p>
<p>&#8220;Contoh besarnya   kontribusi direksi terhadap kecelakaan pesawat terbang pernah terjadi di luar   negeri. Saat itu, seorang direktur maskapai bersangkutan mengingatkan para   pilotnya untuk menghemat bahan bakar avtur karena harganya sedang melonjak.   Karena diminta berhemat, akhirnya sang pilot lupa menghidupkan alat pencair   salju. Akibatnya fatal, pesawat tidak bisa tinggal landas. Ini menunjukkan   betapa berpengaruhnya pernyataan manajemen,&#8221; ungkat Yaddy. </p>
<p>Karena itulah, ujar   dia, fokus peningkatan faktor keselamatan dari sisi manusia tidak lagi   diarahkan pada individu pilot, tetapi telah bergeser pada organisasi maskapai   penerbangan. </p>
<p>Dengan demikian, semua   orang yang bekerja dalam organisasi maskapai penerbangan harus memahami   prosedur penerbangan. </p>
<p><strong>Terpenting </strong></p>
<p>Sementara itu   Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia   (Inaca) Tengku Burhanuddin mengatakan, dari 28 operator penerbangan yang   terdaftar saat ini sekitar 16 operator yang mengudara jumlah pesawat 300. </p>
<p>&#8220;Kita harus   proporsional dalam melihat peristiwa ini, ada ribuan penerbangan dalam   setahun. Sementara transportasi udara diperlukan, maka kecelakaan pesawat   jangan lantas membuat citra negatif bagi penerbangan Indonesia,&#8221;   ujar Tengku. </p>
<p>Menurut Tengku,   setelah diketahui penyebab kecelakaan AdamAir, harus segera dilakukan   langkah-langkah perbaikan. Sementara saat ini, semua pihak harus menahan diri   agar jangan mengeluarkan opini negatif terhadap dunia penerbangan. </p>
<p>Tengku mengakui saat   ini ada pendapat bahwa perang harga antarmaskapai penerbangan telah   mengabaikan keselamatan penerbangan. &#8220;Keselamatan penerbangan adalah   yang terpenting di atas apa pun,&#8221; tutur Tengku. </p>
<p>Perang tarif tidak   hanya terjadi di Indonesia,   tetapi juga terjadi di negara lain, termasuk di Amerika Serikat. &#8220;Kita   mengenal penerbangan bertarif murah, seperti AirAsia dan JetStar, yang   dikenalkan negara lain. Tidak ada masalah selama ini, karena keamanan tidak   lalai dilakukan,&#8221; papar Tengku. </p>
<p>Akibat ketatnya   persaingan dalam industri penerbangan, sejak Januari sampai April 2006, ada   empat perusahaan penerbangan anggota Inaca yang secara resmi menghentikan   operasinya. </p>
<p>Keempat perusahaan   tersebut adalah Bayu Air, Bouraq, Bali Air, dan Star Air. Meskipun jumlah   penumpang penerbangan berjadwal di dalam negeri pada tahun 2005 meningkat 22   persen, nyatanya sebagian besar maska- pai masih merugi. Hal ini disebabkan   tingginya biaya operasional penerbangan, di samping itu karena tajamnya   persaingan. (FAJ/RYO) <a href="http://kompas.com/ver1/Ekonomi/0701/03/065220.htm">http://kompas.com/ver1/Ekonomi/0701/03/065220.htm</a></p>
<p>Google,11/5/2007 10:21:14</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;color:#0063ff;">Media Cetak Terancam   &#8220;Cyber&#8221; Media</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></p>
<p></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Jakarta</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">, Kompas</span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Media cetak yang dianggap   media tradisional dalam sepuluh tahun mendatang terancam dengan perkembangan <em>cyber</em>   media. Paling tidak itulah yang saat ini terjadi pada media di Amerika. Meski   kebutuhan akan informasi terus meningkat, namun keinginan untuk membaca media   tradisional cenderung menurun.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Hal ini dikemukakan   Prof Brian Brooks, Editorial Department Missouri School of Journalism dari   University Missouri, dalam Workshop Media Management and Media Technology   yang diselenggarakan Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI), Serikat   Penerbit Suratkabar (SPS), Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), bekerja sama   dengan Kedutaan Besar Amerika dan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) di Jakarta,   Selasa (21/3). </span></p>
<p><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Workshop</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> yang dibuka ketua   umum SPS Jakob Oetama itu juga menampilkan pembicara Pacific Editor Stars   &amp; Stripes, Lee Ewing, yang membawakan topik <em>Managing to Survive and   Strategic Planning</em> dan panelis Makfuddin Wiraatmadja dari MPPI, Kemala   Atmojo dari Majalah <em>GAMMA</em>, Arnold Seitlin dari Freedom Forum dan Lin   Neumann dari Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) dengan topik <em>Management   Issues</em>. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Jakob Oetama ketika   membuka <em>workshop</em> mengatakan, saat ini ada tugas besar yang dihadapi   dunia usaha penerbitan dengan keterbatasan kapasitas yang dimilikinya. Tugas   itu berkaitan dengan peran media dalam demokrasi dan bagaimana dunia media   dapat bertahan menghadapi perkembangan teknologi. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">&#8220;Satu-satunya   yang bisa dikerjakan adalah membentuk kerja sama tim yang solid dan mau terus   belajar. Kita harus sadar terhadap kemajuan teknologi informasi saat ini, dan   harus mau belajar lagi dengan membuka pikiran dan mau terjun ke   lapangan,&#8221; kata Jakob.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Masih menurut Jakob,   media bukan sekadar bagaimana memproduksi suatu berita, tetapi juga berkaitan   dengan marketing, manajemen finansial dan kepercayaan dari masyarakat yang   menjadi pembacanya. &#8220;Oleh karenanya kita harus dapat membuka diri   terhadap kritik dari masyarakat,&#8221; ujarnya.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Tiga hal</span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Menghadapi <em>trend</em>   media di tahun-tahun mendatang, Brooks mengatakan, saat ini ada tiga hal   penting yang harus diperhatikan dunia usaha pers, yaitu manajemen, teknologi   dan anggaran. Tanpa itu, media tradisional akan ditinggalkan pembacanya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Manajemen meliputi   kemampuan manajerial yang dimiliki seorang manajer dan bagaimana menerapkan   model kepemimpinan yang tetap. &#8220;Seorang pemimpin harus mempunyai visi,   mampu menjelaskan pada stafnya mengapa visi yang dimilikinya itu penting   sehingga bisa mengajak stafnya untuk mencapai tujuan bersama,&#8221; katanya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Menurut Brooks,   perkembangan teknologi terutama di bidang informasi penting untuk selalu   diikuti dunia pers. Akan tetapi ia mengingatkan agar penggunaan teknologi itu   harus bertujuan untuk mendapatkan keuntungan, paling tidak bisa meningkatkan   kinerja operasional internal. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Kehati-hatian dalam   perhitungan penggunaan teknologi ini berkaitan dengan dana yang tersedia.   &#8220;Jangan sampai dana yang dikeluarkan untuk teknologi ini tidak bisa   dimanfaatkan secara maksimal,&#8221; katanya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Namun</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">menurut</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Brooks</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">, hal terpenting harus   dicermati dari perkembangan teknologi informasi ini adalah bagaimana pengaruh   teknologi tersebut terhadap cara orang mengkonsumsi berita. Dengan mengetahui   pengaruh teknologi ini, media bisa memposisikan diri sesuai dengan kebutuhan   konsumennya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Sedangkan di sisi   lain, Lee Ewing mengemukakan, perkembangan internet sekarang ini telah   mempengaruhi cara penggunaan waktu pembaca media tradisional. &#8220;Anak-anak   muda di Amerika lebih tertarik dengan berita yang sudah dikemas sebagai   komoditi dalam bentuk hiburan yang menarik. Waktu mereka pun lebih banyak   dihabiskan di depan komputer daripada membaca koran,&#8221; katanya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Mencermati   perkembangan seperti ini, para jurnalis di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> harus bisa   mempersiapkan diri terhadap perkembangan teknologi informasi. Baik Brooks   maupun Lee yakin, perkembangan media di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> tidak akan terlepas   dari teknologi informasi yang memanfaatkan <em>cyber</em> media. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">&#8220;Bisa saja   perkembangan media di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> berbeda dengan   perkembangan di Amerika, namun tahun-tahun mendatang </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> akan diramaikan   dengan jurnalis yang memanfaatkan teknologi informasi di <em>cyber</em>   media,&#8221; kata Brooks.</span></p>
<p><a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0003/22/dikbud/medi09.htm">http://www.kompas.com/kompas-cetak/0003/22/dikbud/medi09.htm</a></p>
<p>google,11/5/2007 10:25:18 </p>
<p> </p>
<p> </p>
<h3><span style="font-size:12pt;"><a href="http://hanyaudin.blogspot.com/2007/04/lagi-soal-reposisi-dan-manajemen-pers.html">Lagi,   Soal Reposisi dan Manajemen Pers Mahasiswa</a></span></h3>
<p> </p>
<p>Lima   tahun lalu, saya bergabung dengan pers mahasiswa (persma). Dunia baru yang   pada mulanya sangat awam dalam kehidupan saya, seorang lulusan sekolah   menengah kejuruan yang kemudian memilih studi ilmu kesusasteraan di bangku   perkuliahan. Namun dalam masa yang terbilang singkat itu, setidaknya untuk   ukuran kematangan sebuah proses seorang yang bergelut dalam dunia pers, saya   menemukan kenikmatan. Saya rela mencurahkan waktu yang lebih di komunitas ini   disela-sela waktu studi saya di kampus yang singkat.</p>
<p>Lima tahun berproses, saya   dihadapkan pada wacana soal reposisi persma: menjadi media komunitas kampus   atau –seperti era sebelumnya—menjadi media pengontrol kekuasaan, baik di   dalam kampus maupun keluar kampus (media alternatif). Dalam kategori yang   pertama, persma cukup menjadi media sambung-rasa antar sivitas akademika,   selain juga sebagai tempat mahasiswa belajar dunia tulis-menulis dan pers   (laboratorium jurnalistik). Pada kategori kedua, persma dituntut untuk keluar   dari komunitas, tak hanya mengcover isu-isu kampus, tapi juga mengamati   kehidupan di masyarakat, isu politik yang lagi aktual baik dalam skala   nasional maupun global, dan isu-isu lain yang terkait dengan kebijakan   pemerintah yang tidak pro terhadap kepentingan rakyat kecil.</p>
<p>Lalu, ke mana persma sekarang harus menempatkan diri?</p>
<p>Dalam acara Dies Natalis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang   diadakan di Semarang pada 5-7   April di Kampus I IAIN Walisongo Semarang, dilontarkan beberapa wacana soal   reposisi pers mahasiswa. Mohamad Arman, perwakilan persma dari Sulawesi   yang juga menjabat sebagai Sekjen PPMI, mengemukakan perlunya payung hukum   bagi persma. Menurutnya, UU Pers yang ada di Indonesia   saat ini (UU tentang Pers: UU No. 40/1999), tidak secara eksplisit   mencantumkan pers mahasiswa sebagai bagian dari lembaga pers di Indonesia.   Dari informasi salah seorang teman yang mengikuti kegiatan itu secara   keseluruhan, suatu malam dibahas rencana aksi turun kejalan. Aksi ini sebagai   tindaklanjut dari rangkaian diskusi dan seminar-seminar yang telah digelar   sejak hari pertama. Tapi diskusi yang berlanjut hingga larut pagi itu tidak   mencapai titik temu. Selain konsep yang tidak jelas, sebagain perwakilan dari   persma mempertanyakan esensi dari aksi turun ke jelan tersebut.</p>
<p>Dari sepenggal cerita di atas, saya melihat beberapa teman yang bergiat di   persma ingin diakui eksistensinya. Saya pribadi menganggap &#8220;tidak   perlu&#8221; dengan usulan adanya payung hukum secara khusus yang di dalamnya   mencantumkan persma dalam penjabaran UU tentang pers. Terlebih lagi dengan   rencana aksi turun ke jalan, jika kedua usulan itu ditujukan untuk   mengharapkan pengakuan dari publik terhadap eksistensi persma. Alasannya   sederhana, meski secara eksplisit persma tidak disebutkan dalam UU per situ,   tapi persma termasuk lembaga pers yang sudah tercakup di dalamnya. Jangankan   persma, tulisan diblog yang dikerjakan dengan metode kerja jurnalistik secara   benar, sudah memliki kedudukan yang sama dengan pers pada umumnya. Jika tulisan   itu dipersoalkan, misalnya oleh oknum atau lembaga yang tidak senang terhadap   muatan tulisan, maka di pengadilan penulis atau jurnalis (dan siapapun bisa   menjadi jurnalis, tidak harus wartawan yang bekerja untuk media mainstream)   bisa memakai payung hukum pers di pengadilan.</p>
<p><a href="http://hanyaudin.blogspot.com/2007/04/lagi-soal-reposisi-dan-manajemen-pers.html">http://hanyaudin.blogspot.com/2007/04/lagi-soal-reposisi-dan-manajemen-pers.html</a></p>
<p>google,11/5/2007 10:32:18 </p>
<p>PMPTK SINERGIKAN   PROGRAM DENGAN FORUM MEDIA</p>
<p class="MsoNormal">Di Taman Ismail   Marzuki, Selasa 18 Juli 2007 Dirjen PMPTK, Fasli Jalal berdiskusi dengan   Forum Media. Turut hadir pada kesempatan ini adalah Dharmaningtyas, pengamat   pendidikan yang selalu produktif menghadirkan tulisannya di media cetak, para   tokoh di media cetak, elektronik dan dunia maya dari Indo Pos, Jurnal   Perempuan,  TVRI, dsb. Diskusi santai ini digelar di gedung HB Jasin   sebagai salah satu sarana dialog yang diharapkan dapat mensinergikan antara   kalangan media dan pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan   melalui peningkatan mutu guru.</p>
<p class="MsoNormal">Sebagaimana   disampaikan pada presentasi Bapak Joko Intarto dari Indo Pos Grup, bahwa   seharusnya pemerintah dapat menggunakan media-media massa   yang telah dikelola pihak swasta dengan professional untuk meningkatkan mutu   pendidikan. Sampai saat ini masih sangat kecil pemanfaatan tersebut, padahal   media massa telah memiliki   berbagai fasilitas yang seringkali dipergunakan oleh kalangan pendidikan-non   pemerintah secara langsung dan apabila pemerintah mempergunakan fasilitas   tersebut tentunya dapat menghemat pembiayaan dan penyampaian informasi   menjadi lebih efektif. Disebutkan juga bahwa motif utama pihak swasta turut   serta dalam upaya peningkatan mutu pendidikan tentunya semata-mata hanyalah strategi   bisnis dengan target-target yang disukai oleh masyarakat. Namun demikian,   bukan tidak mungkin bila hal tersebut dilaksanakan bersama dengan pemerintah.   Hal semacam ini tampaknya luput dari perhatian pemerintah.</p>
<p>Saat ini media massa yang   berkembang sangat banyak, Jawa Pos grup saja beranggotakan 150 koran tidak   termasuk media mingguan dan media televisi daerah. Beberapa media massa   bahkan mempunyai tempat untuk berlatih manajemen, bahasa dsb yang dikelola   secara swadaya yang concern dengan dunia pendidikan. Akan tetapi seberapa   banyak yang dapat dimanfaatkan dan bagaimana memanfaatkan media massa   utk peningkatan mutu guru, peran pemerintah hampir tidak ada. Sehingga   tidaklah heran apabila yang sering muncul lebih banyak berita-berita miring   yang justru menyudutkan pemerintah. Karena kesempatan inilah yang menjadi   sasaran teman-teman wartawan untuk memunculkan ketokohan guru sebagai figure   yang disukai oleh masyarakat karena seolah-olah teraniaya. Sehingga ketika   media memihak dan mengeksploitasi guru, maka oplah pasar dan citra media   menjadi naik dan tentunya akan sangat menguntungkan pihak media.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.pmptk.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=263&amp;Itemid=1">http://www.pmptk.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=263&amp;Itemid=1</a></p>
</td>
</tr>
</table>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">google,</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">11/5/2007</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> 10:36:58 </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vindre.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vindre.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vindre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vindre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vindre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vindre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vindre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vindre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vindre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vindre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vindre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vindre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vindre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vindre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vindre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vindre.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vindre.wordpress.com&amp;blog=1968899&amp;post=7&amp;subd=vindre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/dinformasi-4-manajemen-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/090c701e878f68fa147db2a8a42888a1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">vindre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>C.	Informasi 3 : Dunia broadcasting</title>
		<link>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/cinformasi-3-dunia-broadcasting/</link>
		<comments>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/cinformasi-3-dunia-broadcasting/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 05:18:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vindre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/cinformasi-3-dunia-broadcasting/</guid>
		<description><![CDATA[LOWONGAN METRO TV +dunia+broadcasting Saya mendapat pesan dari salah seorang melalui blog journalist bahwa sekarang ada peluang terbuka bagi Anda yang masih berminat masuk dunia televisi. Informasi ini bisa disimak langsung di situ Metro TV. Kami mengundang tenaga-tenaga muda dinamis untuk mengisi posisi: PRESENTER Kualifikasi: Pendidikan min S1, IPK min 2,75 Usia max 28 tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vindre.wordpress.com&amp;blog=1968899&amp;post=6&amp;subd=vindre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="font-size:12pt;"><a href="http://www.journalist-adventure.com/?p=38">LOWONGAN METRO TV</a></span></h1>
<p>+dunia+broadcasting</p>
<p>Saya mendapat pesan dari salah seorang melalui blog journalist bahwa sekarang ada peluang terbuka bagi Anda yang masih berminat masuk dunia televisi. Informasi ini bisa disimak langsung di situ <a href="http://www.metrotvnews.com/vacancy.asp">Metro TV</a>.</p>
<p>Kami mengundang tenaga-tenaga muda dinamis untuk mengisi posisi:</p>
<p>PRESENTER<br />
Kualifikasi:</p>
<p>Pendidikan min S1, IPK min 2,75<br />
Usia max 28 tahun<br />
Lancar berbahasa Inggris (TOEFL 500)<br />
Postur tubuh proporsional, dengan tinggi badan min.165 cm<br />
Berpenampilan menarik, cameraface dengan vocal/suara yang baik (microphonic)<br />
Diutamakan yang memiliki pengalaman jurnalistik dan penulisan naskah berita<br />
* Harap sertakan foto postcard dalam beberapa posisi close up + tertawa</p>
<p>PRODUCER (PROD)<br />
Kualifikasi:</p>
<p>Pendidikan min S1, IPK min 2,75<br />
Usia max 35 tahun untuk Producer<br />
Mampu berbahasa Inggris lisan dan tertulis<br />
Berpengalaman di broadcast &amp; jurnalistik<br />
Berpengalaman sebagai Producer min 2 tahun</p>
<p>ASSISTANT PRODUCER (ASPROD)<br />
Kualifikasi:</p>
<p>Pendidikan min S1, IPK min 2,75<br />
Usia max 33 tahun<br />
Mampu berbahasa Inggris lisan dan tertulis<br />
Berpengalaman di broadcast &amp; jurnalistik<br />
Berpengalaman sebagai Assistant Producer min 2 tahun</p>
<p>REPORTER (REP)<br />
Kualifikasi:</p>
<p>Pendidikan min S1, IPK min 2,75<br />
Usia max 28 tahun<br />
Lancar berbahasa Inggris (TOEFL min 500)<br />
Poster tubuh proporsional, dengan tinggi badan min 165 cm<br />
Berpenampilan menarik, cameraface dengan vokal/suara yang baik (microphonic)<br />
Diutamakan laki-laki</p>
<p>CAMERA PERSON (CAM)<br />
Kualifikasi:</p>
<p>Pendidikan min S1, IPK min 2,75<br />
Usia max 30 tahun<br />
Tinggi minimal 165 cm<br />
Pengalaman di broadcast min 3 tahun<br />
Tidak buta warna</p>
<p>ACCOUNT MANAGER (AM)<br />
Kualifikasi:</p>
<p>Pendidikan min S1, IPK min 2,75<br />
Usia max 30 tahun<br />
Berpengalaman sebagai AE/Marketing dan mensupervisi team penjualan di broadcast atau agency iklan<br />
Memiliki kendaraan pribadi</p>
<p>ACCOUNT EXECUTIVE (AE)<br />
Kualifikasi:</p>
<p>Pendidikan min S1, IPK min 2,75<br />
Usia max 27 tahun<br />
Berpengalaman sebagai AE/Marketing di broadcast atau biro iklan<br />
Memiliki kendaraan pribadi</p>
<p>Lamaran dikirim ke :</p>
<p>recruitment@metrotvnews.com<br />
PT. Media Televisi Indonesia (MetroTV)<br />
PO Box 1515/PLUS/JKB 11015</p>
<p>Sertakan :</p>
<p>Surat lamaran dan CV. Tuliskan kode jabatan di sudut kanan amplop<br />
Lampirkan fotocopy ijazah beserta transkrip terakhir<br />
Lampirkan foro diri terbaru ukuran postcard(khusus untuk Reporter)</p>
<p><a href="http://www.journalist-adventure.com/?p=38">http://www.journalist-adventure.com/?p=38</a></p>
<h3><span style="font-size:12pt;"><a href="http://datalowongankerja.com/jobvacancy/teknik/lowongan-recruitmen-transtv-and-tv7" title="Lowongan Recruitmen TransTV and TV7">Lowongan Recruitmen TransTV and TV7</a></span></h3>
<p><strong>Broadcaster Development Program (BDP) is a program from TV7 and Trans TV to educate and develop fresh graduates to be highly qualified broadcasters. It is a commitment from the Board of commissioners and Directors to conduct an annual regular program for them and has been done for 6 batches starting in 2001. </strong><br />
From this program, we already create and provide capable and skilful individuals in the area of broadcasting. It is already proven that many of our employees (from BDP graduates) are working in other TV stations either local or international, and occupy good position.<br />
Starting this year TV7 join Trans TV. Since then, we have more young people to be trained.</p>
<p><strong>TransTV and TV7 are rapidly growing stations in television industry and aiming to be the best in </strong><strong>Indonesia</strong><strong>. We challenge young, dinamic and innovative candidates to join us for the Broadcaster Development Program (BDP)</strong></p>
<p><strong>General Qualifications:</strong><br />
- Male/Female max 27 years old.<br />
- Diploma III or university graduate<br />
- Minimum GPA 2.75<br />
- Creative, Ambitious, Hardworking, Assertive, Energetic<br />
- Able to work in a fast paced environment<br />
- Great interpersonal and communication skills</p>
<p>All candidates will be processed in the Selection and Training Program<br />
<strong>BDP RECRUITMENT STAGES</strong><br />
- Selection of Administration<br />
Only applicants who meet our recruitment are selected.<br />
- Selection Test<br />
First Test: General Knowledge and English tests<br />
Second test: Psychological Tests<br />
If you fail the first test, you cannot continue to the second test<br />
If you fail the second test you cannot continue the interview process.<br />
-Interview with HC &amp; User<br />
There are several interview sessions. First, you will be interviewed by HC and then you will be referred to user. Interview with user can be one or more.<br />
- Medical Test<br />
- BDP Training Program<br />
- Placement of Position</p>
<p><strong>BDP TRAINING STAGES</strong><br />
It is a 9 months intensive program which consists of 3 steps:<br />
<strong>STEP ONE (Training Program)</strong><br />
- General Training Program<br />
- Specialized training Program<br />
- On the Job Training<br />
<strong>STEP TWO (Contract Employees)</strong><br />
- A six months contract program<br />
- Special assignment<br />
<strong>* STEP THREE (Permanent Employees)</strong><br />
- Permanent Assignment</p>
<p>Every step will be carefully evaluated by a team of evaluator and will be terminated if they failed.<br />
Please fill in the <a href="http://www.transcorp.co.id:8080/recruitment/daftar.php" target="_blank">application form</a> and CV latest by December 3rd  2006. <a href="http://datalowongankerja.com/jobvacancy/teknik/lowongan-recruitmen-transtv-and-tv7">http://datalowongankerja.com/jobvacancy/teknik/lowongan-recruitmen-transtv-and-tv7</a></p>
<h2><span style="font-weight:normal;">TV Broadcasting</span></h2>
<p>Multimedia Broadcast berhubungan dengan media televisi yang terdiri dari perpaduan antara multimedia aplikasi komputer dengan alat-alat yang bernuansa broadcasting. Di Indonesia banyak hadir televisi swasta yang telah memunculkan program-program acara yang cukup menarik untuk dinikmati. Dari mulai acara News, Sinetron, Film laga, Komedi, Hingga berbagai macam tayangan kuis yang kesemuanya itu menggunakan alat broadcast televisi yang bagus untuk standar televisi.<br />
Multimedia Broadcasting memadukan antara unsur pengambilan sebuah gambar dan permainan sebuah effect kamera yang terdapat pada setting menu serta jenis kamera dan sebuah effect software komputer yang dimainkan oleh seorang animator. Dari perpaduan kedua unsur tersebut dapat menghasilkan output tampilan yang sangat mengagumkan dan mempunyai nilai jual sangat tinggi di dunia broadcasting.</p>
<p>Tidak mustahil jika semakin banyak channel televisi yang muncul di layar kaca maka semakin banyak pula Production House yang menawarkan jasa untuk memproduksi sebuah program acara yang kemudian akan di jual ke pihak televisi.</p>
<p>Penayangan sebuah program acara televisi bukan hanya tergantung pada konsep penyutradaraannya saja atau kreatifitas penulisan naskah, melainkan sangat bergantung pada kemampuan profesionalisme dari seluruh kelompok kerja di dunia broadcast dengan seluruh mata rantai divisinya (Naratama, 2004, hal 62). Dalam memproduksi suatu format acara Talk Show yang saat ini masih menjadi acara unggulan bagi para pemirsa televisi, diperlukan suatu kerjasama yang profesional antar setiap divisi satuan kerja produksi, serta alat produksi yang memenuhi syarat agar dapat menyajikan sebuah acara televisi Talk Show yang dapat memberikan nilai pendidikan, hiburan dan informasi untuk pemirsa televisi.</p>
<p>Meskipun satuan kerja produksi bekerja di bidang tugas yang berbeda, tetapi semuanya hanya mempunyai satu tujuan, yaitu menghasilkan karya produksi yang akan digunakan sebagai acara siaran dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Karena itu sebelum melangkah ke pelaksanaan produksi semua anggota kerabat kerja harus mendapat informasi yang cukup, sehingga semua kegiatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan rencana produksinya serta agar tidak terjadi kesalahan yang fatal saat jalannya proses produksi.</p>
<p><a href="http://bhanusrinugraha.wordpress.com/tv-broadcasting/">http://bhanusrinugraha.wordpress.com/tv-broadcasting/</a></p>
<p>google,11/5/2007 9:51:32</p>
<h2>Jakarta Broadcasting  School</h2>
<p>Booming Industri televisi di Indonesia, yang ditengarai kehadiran 10 televisi swasta (RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, Trans TV, Metro TV, TV7, Lativi dan Global TV) dan menjamurnya televisi lokal/regional (JTV, Riau TV, Bali TV, dll) seiring dengan makin menguatnya wacana otonomi daerah, telah melahirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan di negeri ini untuk menyediakan tenaga &#8211; tenaga profesional di bidang broadcasting. Bagaimanapun harus diakui bahwa booming industri televisi di Indonesia tidak dibarengi dengan tersedianya tenaga kerja siap pakai. Adalah tanggung jawab kampus untuk menjawab tantangan dan peluang ini.</p>
<p>Universitas Budi Luhur dengan bangga dan penuh dedikasi membuka beberapa program pendidikan dan pelatihan di bidang broadcasting (televisi dan radio) untuk menjawab antusiasme masyarakat untuk terlibat aktif di dunia penyiaran yang sarat dengan teknologi dan idealisme.</p>
<p>Dengan pengalaman puluhan tahun di bidang pendidikan, didukung oleh para pengajar dan instruktur profesional dari televisi/radio dari dalam dan luar negeri, Jakarta Broadcasting School adalah sebuah pilihan yang tepat bagi generasi muda Indonesia yang ingin terjun ke dunia broadcasting yang gemerlap dan penuh tantangan.</p>
<p>Jakarta Broadcasting  School juga akan menjalin kerjasama dengan pelbagai lembaga penyiaran di dalam dan luar negeri untuk penyelenggaraan program diklat, maupun kesempatan <a href="http://cakra.bl.ac.id/web/www/fakultasakademi/jakarta-broadcasting-school/">http://cakra.bl.ac.id/web/www/fakultasakademi/jakarta-broadcasting-school/</a>.</p>
<p>Google,11/5/2007 9:56:48</p>
<h2><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';font-weight:normal;font-style:normal;"> </span></h2>
<h2><span style="font-size:12pt;"><a href="http://semaibroadcast.wordpress.com/2007/06/20/pilihan-kelas-training/">Pilihan Kelas Training</a></span></h2>
<p>Semai Broadcast: Bandung Communication  Training Center is The Best Place to be Great Communicator and Professional Radio Announcer, Reporter, Presenter/MC, Public Speaker, and Writer.</p>
<p>Dipersembahkan bagi Anda yang ingin terampil berkomunikasi atau terjun di dunia broadcast dan media massa: menjadi Penyiar Radio, Reporter, Presenter/MC, Public Speaker Profesional atau Orator Andal, Lancar Berbicara di Depan Umum dan Memukau Audience saat Presentasi atau Pidato, serta bagi Anda uang ingin menjadi Penulis/Kolomnis di Media, juga Penulis Buku.</p>
<p>Buktikan! Bersama kami Anda tidak perlu bertahun-tahun<br />
duduk di bangku kuliah untuk terampil berkomunikasi<br />
dan menjadi komunikator profesional.</p>
<p><strong>PILIHAN KELAS:</strong></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong>Announcer Class</strong>      – Kelas Training/Diklat Penyiar Radio Profesional</li>
<li class="MsoNormal"><strong>Public Speaking      Class</strong> – Kelas Training Orator Andal, Lancaran Berbicara di Depan      Umum, Ahli Pidato, Piawai Melakukan Presentasi.</li>
<li class="MsoNormal"><strong>Writing Class</strong>      &#8211; Mencetak Penulis dan Kolomnis Media Profesional</li>
<li class="MsoNormal"><strong>Executive Class</strong>      –Kelas Khusus Profesional atau Eksekutif dengan paket materi training:      Communication Skill – Writing, Public Speaking, Presentastion Technique,      Media Relation, Public Relation, Negotiation Technique, Debating Skill.</li>
</ol>
<p><strong>Coming Soon!</strong></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong>TV Reporter Class</strong>      – Kelas Reporter TV Profesional</li>
<li class="MsoNormal"><strong>TV Presenter/MC      Class</strong> – Kelas TV Presenter/MC</li>
</ol>
<p class="MsoNormal"><a href="http://semaibroadcast.wordpress.com/2007/06/20/pilihan-kelas-training/">http://semaibroadcast.wordpress.com/2007/06/20/pilihan-kelas-training/</a></p>
<p class="MsoNormal">google,11/5/2007 10:01:17</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:'Arial Narrow';"> </span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vindre.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vindre.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vindre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vindre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vindre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vindre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vindre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vindre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vindre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vindre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vindre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vindre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vindre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vindre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vindre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vindre.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vindre.wordpress.com&amp;blog=1968899&amp;post=6&amp;subd=vindre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/cinformasi-3-dunia-broadcasting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/090c701e878f68fa147db2a8a42888a1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">vindre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>B.	Informasi 2 : Dunia Jurnalistik</title>
		<link>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/binformasi-2-dunia-jurnalistik/</link>
		<comments>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/binformasi-2-dunia-jurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 05:05:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vindre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/binformasi-2-dunia-jurnalistik/</guid>
		<description><![CDATA[google, 11/5/2007 9:11 Tips masuk dunia jurnalistik (2) +Dunia+jurnalistik Ada sebuah nasihat dari seorang pakar marketing dan karir. Kebanyakan orang untuk mengambil sebuah karir adalah tidak mengambil keputusan. Orang ragu-ragu apakah karir yang akan dimasuki memiliki masa depan baik? Atau cocokkah dengan karakter saya ? Apakah saya mampu ? Saya tidak punya keahlian di bidang ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vindre.wordpress.com&amp;blog=1968899&amp;post=5&amp;subd=vindre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>google, 11/5/2007 9:11</p>
<h2><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';font-style:normal;"><a href="http://freejournalist.wordpress.com/2006/07/24/tips-masuk-dunia-jurnalistik-2/" title="Permanent Link to Tips masuk dunia jurnalistik (2)"><span style="color:black;">Tips masuk dunia jurnalistik (2)</span></a></span></h2>
<p>+Dunia+jurnalistik</p>
<p>Ada sebuah nasihat dari seorang pakar marketing dan karir. Kebanyakan orang untuk mengambil sebuah karir adalah tidak mengambil keputusan. Orang ragu-ragu apakah karir yang akan dimasuki memiliki masa depan baik? Atau cocokkah dengan karakter saya ? Apakah saya mampu ? Saya tidak punya keahlian di bidang ini sebelumnya ? Saya tidak punya pengalaman menulis ?</p>
<p>Sang pakar ini memberi nasihat. Putuskanlah terlebih dahulu. Buatlah keputusan. Pilihlah jalan hidup Anda! Demikian apa yang disarankannya. Diterima atau tidak, kadang-kadang kita tidak memutuskan terlebih dahulu mau kemana.</p>
<p>Jika Anda memutuskan masuk dunia jurnalistik apakah sebagai wartawan bidang media cetak atau elektronik, segera ambil. Jangan menunggu sampai habis waktu kita. Bertanyalah mengenai prospek di bidang ini kepada sahabat, rekan atau orang yang bisa diminta pertimbangkan.</p>
<p>Setelah mengambi keputusan, tuliskanlah. Tuliskan keputusan itu diatas sehelai kertas atau di sebuah file atau di sebuah blog. Tuliskan dengan rinci tujuan Anda dalam karir itu. Tidak menuliskan secara eksplisit untuk keperluan Anda sendiri, maka keputusan itu tidak lain adalah harapan kosong.</p>
<p>Jika kita memutuskan sesuatu kemudian menuliskannya, maka energi akan menyatu antara harapan dan kenyataan. Antara apa yang dipikirkan dengan apa yang akan terjadi. Tangan dan pikiran serta seluruh energi dalam tubuh Anda tersalur kedalam tulisan itu. Keputusan tidak akan jadi harapan kosong. Keputusan itu telah menjadi energi.</p>
<p>Langkah selanjutnya akan mengikuti keputusan yang ditulis itu. Langkah-langkah berikutnya akan beranjak dari keputusan yang telah ditulis. Tidak percaya ? Coba tuliskan, apa yang Anda kehendaki dengan masuk dunia jurnalistik. Lalu apa langkah-langkah berikutnya. Tanpa ada rincian, sekali lagi keputusan itu tinggal angan-angan Anda.</p>
<p><a href="http://freejournalist.wordpress.com/2006/07/24/tips-masuk-dunia-jurnalistik-2/">http://freejournalist.wordpress.com/2006/07/24/tips-masuk-dunia-jurnalistik-2/</a></p>
<h2><span style="color:black;"><a href="http://freejournalist.wordpress.com/2006/07/23/tips-masuk-dunia-jurnalistik-1/" title="Permanent Link to Tips masuk dunia jurnalistik (1)"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';color:black;font-style:normal;">Tips masuk dunia jurnalistik (1)</span></a></span></h2>
<p>+dunia+jurnalistik</p>
<p>Banyak pertanyaan seputar bagaimana memasuki dunia jurnalistik ketika sebuah lowongan dipasang. Bagaimana caranya ? Mengapa saya gagal ? Saya baru lulus bisakah masuk ke dunia jurnalistik. Lalu mau melamar bagaimana caranya ?</p>
<p>Pertanyaan serupa pernah muncul dalam benak saya sebelum memasuki dunia jurnalistik.</p>
<p>Salah satu tip untuk memasuki dunia jurnalistik adalah kesiapan dari dalam diri kita ? Apakah kita benar senang melihat bagaimana kesibukan para wartawan, presenter televisi atau radio dan berbagai tokoh jurnalistik berbicara soal media ? Jika ya, maka teruskan pada tahap berikutnya.</p>
<p>Mengapa minat menggebu ini penting ? Karena dengan modal inilah semua kesulitan bisa diselesaikan. Minat yang tinggi dinggal digabung dengan skills, misalnya membuat cv dan wawancara.</p>
<p>Jika minat sudah ada, maka mulailah bertindak menuju dunia jurnalistik dengan banyak menulis, banyak membuat analisa dan membuat opini di media massa di kota Anda. Identifikasi minat Anda. Bila bermimat di dunia sastra, mulailah dengan menulis puisi, prosa atau cerpen. Mulailah sekarang juga apalagi bagi yang akan lulus. Tulisan Anda di sebuah media daerah atau bahkan media nasional akan memperkuat bobot Anda dibandingkan dengan rekan lainnya ketika sama-sama mengajukan lamaran ke sebuah perusahaan.</p>
<p>Jika tidak bisa dimuat, saran Mochtar Lubis, buatlah tulisan setiap hari &#8211; sekali lagi setiap hari &#8211; di buku harian Anda. Membiasakan memberi komentar dan deskripsi akan memberikan kekuatan dan modal penting dalam liputan di masa datang. Saran Mochtar Lubis &#8211; tokoh sastra ini &#8211; sangatlah berarti karena begitu Anda memang tuts komputer atau pena, kadang-kadang Anda tidak berani mengungkapkan perasaan, opini atau argumentasi. Anda menjadi pemalu.</p>
<p>Nah bagaimana Anda bisa pemalu menulis komentar tentang peristiwa di sekitar Anda mulai dari kasus korupsi, banjur, got mampet, kemarau panjang dan angkot yang tidak disiplin, kalau bisa berbicara dan berdebat dengan rekan Anda tentang suatu masalah yang lagi hot. Kebiasaan menulis buku harian &#8211; tidak selalu tentang romantisme Anda &#8211; mengenai topik sosial, nasional dan internasional akan membuat Anda terbiasa dan terbuka dalam mengajuka pendapat. Anda juga bisa terbiasa menuliskan secara runtut dan logis.</p>
<p>Bila sudah selesai, kaji dan baca kembali. Siapa tahu memang dari situ kelihatan bakat Anda dalam penulisan. Tidak selalu tentu tulisan pertama akan menjadi karya yang terpuji, tetapi Anda telah mengawali langkah untuk memasuki karir di dunia jurnalistik.</p>
<p>Sekali lagi mulailah menulis. Tulis apa saja, beri komentar apa saja. Lalu perlahan-lahan buatlah ulasan terhadap peristiwa yang menarik minat Anda. Keluarkanlah seluruh pengetahuan dan daya analisa Anda, niscaya ini akan menuntun ke dunia lebih luas dalam tahap awal dunia jurnalistik.</p>
<p>Jangan menyerah jika selama satu hari, Anda tidak menulis apapun karena merasa buntu pikiran. Saat kesulitan seperti itulah yang menentukan apakah Anda menyerah atau terus maju.</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><a href="http://freejournalist.wordpress.com/2006/07/23/tips-masuk-dunia-jurnalistik-1/">http://freejournalist.wordpress.com/2006/07/23/tips-masuk-dunia-jurnalistik-1/</a></span></p>
<h2><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';font-style:normal;">Teladan Kita; Andy F. Noya, Meraih Mimpi Dunia Jurnalisti</span></h2>
<p>+dunia+jurnalistik</p>
<p>Kegemaran menulis mengalir di nadi pria berambut kribo ini. Di tangannya, pena seakan menari, menjadi tulisan indah dan berisi. Menjadi seorang wartawan sudah menjadi mimpi pria bernama lengkap Andy Flores Noya ini. Dia memang bukan berasal dari kalangan keluarga berkecukupan. Sang ibu adalah ibu rumah tangga yang penuh kasih sayang. Sedangkan sang ayah hanya seorang teknisi reparasi mesin ketik.</p>
<p>Semangat juangnya menjalani hidup tak pernah meredup. Andy pun menjejakkan kakinya di bangku kuliah Sekolah Tinggi Publisistik (STP) yang sekarang bernama Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. IISIP Jakarta adalah pilihannya dalam mendulang ilmu.</p>
<p>Semasa kuliah, pria berkacamata itu mencoba menarik keberuntungan menjadi wartawan. Berawal dari ketertarikannya mengikuti tes di Majalah Tempo. Andy akhirnya bergabung dan ditempatkan sebagai reporter buku Apa &amp; Siapa. Sejak saat itulah dia mengenal banyak orang, yang membuatnya mampu melangkah lebih jauh di dunia jurnalistik.</p>
<p>Tempo tonggak awal Andy menancapkan taringnya di dunia jurnalistik. Seiring perjalanan waktu, Andy bergabung di Surat Kabar Harian Bisnis Indonesia. Setelah dua tahun bergulat deadline harian, Andy kembali menyatroni dunia majalah. Dia bergabung dengan majalah Matra. Saat itu, karyanya kian tajam. Bahkan tulisannya di majalah pria tersebut sempat mengundang kontroversi. Maklum, kala itu Andy melakukan investigasi tentang “Bisnis Pemuas Nafsu” kalangan hing-end. Dirinya dan media tempat ia bekerja menuai badai protes dan tuntutan. Namun, bukan Andy namanya kalau harus menyerah. Bak bensin tersulut korek, Andy makin menunjukkan taringnya di dunia tulis menulis.</p>
<p>Tapi, virus kutu loncat kembali melanda jiwanya. Sekitar tahun 1992, Andy kembali banting stir menggeluti dunia surat kabar harian. Dia bergabung dengan Media ndonesia. Kembali larut dalam suasana deadline harian. Beruntung, kali ini dia menemukan peraduannya. Andy eksis hingga saat ini. Bahkan, ketika marak stasiun televisi swasta, Andy pun melebarkan sayap dan bergabung dengan Metro TV yang notabene masih satu grup dengan Media Indonesia. Kini posisi teratas di media massa telah diraihnya. Bagaimana perjalanan hidup pria yang dikenal humoris ini?</p>
<p>Secara umum orang mengenal Anda hanya sebagai Pemimpin Redaksi Metro TV. Dapatkah diceritakan bagaimana masa kecil Anda?<br />
Saya terlahir dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Bapak saya seorang servis mesin ketik, ibu tukang jahit. Saya masih ingat, ketika mau membantu bapak menyervis mesin ketik, dia berkata, jangan kamu sentuh mesin ini. Saya sadar ternyata dia tidak mau anaknya menjadi tukang servis mesin ketik. Waktu Sekolah Dasar, saya sempat sekolah di Malang, kemudian ikut bapak ke Papua. Saya tinggal di Papua sampai kelas dua Sekolah Teknik Menengah (STM), terus pindah ke Jakarta, sekolah di STM 6 Keramat.</p>
<p>Kok bisa pindah ke Papua?<br />
Bapak bekerja di sana. Perlahan-lahan bapak mulai banyak mendapat pesanan memperbaiki mesin ketik kantor. Setelah ekonomi sedikit mapan dan membaik, ibu, kakak dan saya menyusul ke Papua. Enam tahun saya tinggal di Papua.</p>
<p>Anda anak bungsu dari lima bersaudara, apakah Anda anak manja?<br />
Sebaliknya, saya anak yang paling keras dan pembangkang. Waktu kecil saya sering tidak pulang ke rumah, ikut mencuri mangga dan burung dara, terus dijual. Kalau tak dikasih uang, kaca-kaca rumah pecah. Kakak-kakak saya mengira, kalau sudah besar nanti saya akan menjadi penjahat.</p>
<p>Sebenarnya apa sih harapan orang tua terhadap diri Anda?<br />
Bapak menginginkan saya menjadi orang teknik, karena dia berasal dari teknik. Dengan harapan saya bisa lebih sukses dari dirinya. Begitu juga harapan saya terhadap anak-anak saya, saya menginginkan anak saya ada yang menjadi wartawan. Tapi tidak ada yang mau, malah pada sekolah desain grafis.</p>
<p>Dari sisi pria, apakah Anda termasuk pria romantis?<br />
Romantis tidak, genit iya. Untung saya menikah dengan perempuan yang bisa memahami saya. Saya tidak bisa melihat perempuan cantik. Istri sering mengatakan bahwa saya adalah suami dan bapak yang baik, tapi sulit dikontrol. Artinya tak tahan melihat perempuan cantik.</p>
<p>Dari sisi perasaan, saya pria yang suka berbicara dengan hati, ketimbang dengan pikiran. Saya mudah tersentuh, apalagi melihat orang susah. Ini mungkin karena pengalaman hidup saya yang berasal dari orang susah. Saya pernah melihat orang tua menjual pisang. Karena kasihan, pisangnya saya bell semuanya. Istri saya protes, saya katakan kamu tidak pernah miskin, maka kamu tidak tahu bagaimana pahitnya menjadi orang miskin.</p>
<p>Anda mengaku sebagai pria genit. Sebagai pria genit Anda tentu punya pandangan tentang wanita. Seperti apa wanita seksi menurut Anda?<br />
Wanita seksi adalah wanita yang cerdas. Saya tidak suka wanita cantik tapi tolol, selera langsung hilang. Wanita kurang cantik tapi pintar, itu baru menggoda.</p>
<p>Sebagai pemimpin media, Anda pasti sibuk. Apa yang Anda lakukan di waktu senggang?<br />
Menonton dan membaca buku. Untuk musik, saya suka musik jazz. Setiap ada pagelaran jazz saya usahakan datang. Sabtu dan Minggu saya gunakan untuk `pacaran’ bersama istri dan jalan bersama anak-istri.</p>
<h2><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><a href="http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2007/04/18/teladan-kita-andy-f-noya-meraih-mimpi-dunia-jurnalistik/">http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2007/04/18/teladan-kita-andy-f-noya-meraih-mimpi-dunia-jurnalistik/</a></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';font-style:normal;"></span></h2>
<p class="MsoNormal"> </p>
<h1><span style="font-size:12pt;">Jurnalistik Berkelanjutan: Sebuah Jalan Tengah?</span></h1>
<p>+dunia+jurnalistik</p>
<table class="MsoNormalTable" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="width:407.35pt;padding:0;" width="543">
<p class="MsoNormal">Jurnalistik Berkelanjutan: Sebuah Jalan Tengah?<br />
Media massa sangat berperan dalam   mengangkat persoalan lingkungan hidup menjadi sebuah perdebatan publik.   Bahkan, media massa dapat menguak   sisi gelap dari permasalahan lingkungan hidup yang sebelumnya tidak terlihat   oleh publik dan para pengambil kebijakaan. Kehadiran buku ini sangat tepat di   saat negeri ini dilanda berbagai bencana lingkungan hidup.<br />
Buku ini dibuka oleh sebuah kekhawatiran penulis terhadap pemberitaan masalah   lingkungan hidup yang mengesampingkan objektivitas karena terlalu   bersemangatnya seorang jurnalis untuk melakukan pembelaan terhadap lingkungan   (hlm. 4). Dikesampingkannya objektivitas dalam peliputan lingkungan hidup   ini, selain tidak memberi keuntungan apa-apa terhadap upaya pembelaan   permasalahan lingkungan, juga dapat merugikan pihak lain yang belum tentu   bersalah.<br />
Dalam buku ini juga menyebutkan bahwa terdapat tujuh kategori yang dapat   digunakan untuk menilai objektivitas sebuah pemberitaan (Simmon, 2004).   Pertama, memasukkan istilah dan definisi yang menyesatkan. Kedua, membuat   berita yang tidak berimbang. Ketiga, memasukkan opini sebagai berita.   Keempat, mengurangi informasi dan konteks yang ada, sehingga dapat mengubah   cerita yang sebenarnya. Kelima, selektif menghilangkan berita tertentu dengan   maksud memanipulasi sentimen publik. Keenam, menggunakan fakta yang benar   untuk menggambarkan berita yang salah. Ketujuh, melakukan distorsi fakta,   yaitu tidak memeriksa informasi dari sumber yang tepat (hlm. 16).<br />
Berbekal ketujuh kategorisasi itulha penulis buku ini mencoba mengupas   objektivitas pemberitaan-pemberitaan yang terkait dengan lingkungan hidup di   media massa, baik lokal maupun   nasional. Kliping-kliping berita dari berbagai media massa   ditampilkan dalam buku ini untuk kemudian dikupas secara lebih mendalam   terkait dengan objektivitasnya.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://satudunia.oneworld.net/article/view/149059/1/2292?PrintableVersion=enabled">http://satudunia.oneworld.net/article/view/149059/1/2292?PrintableVersion=enabled</a></p>
<p class="MsoNormal">google, 11/5/2007   9:24</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<h2><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';font-style:normal;">Blog, Ancaman bagi Jurnalistik Konvensional</span></h2>
<p>+dunia+jurnalistik</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Gedung Pasca Sarjana, ITS Online</strong> &#8211; Blog merupakan salah satu media yang dianggap bebas di era digital seperti sekarang ini. Penggunanya atau yang sering disebut blogger dapat bebas menulis, menuangkan ide dan memberikan tanggapan-tanggapan terhadap fenomena yang terjadi ataupun hanya sekedar curhat. Dengan kebebasan yang ditawarkan, lalu apakah teknologi ini bisa menjadi media layaknya media jurnalistik?. &#8220;Lho kenapa tidak? medianya kan sudah ada! tinggal bikin liputan, wawancara orang, tambahkan foto beres! <em>gak </em>beda<br />
dengan detik (www.detik.com, Red),&#8221; jelas Rane hafid dalam seminar kemarin.</p>
<p>Mengenai kebebasan yang  dalam media blog, Rane mengungkapkan bahwa hal ini ditawarkan kembali kepada tanggung jawab masing-masing dari blogger untuk menghargai apa yang ditulis. Dengan kebebasan itu pula, haruskah blog dibuat mengikuti kaidah jurnalistik? Rane yang juga salah satu penyiar radio di Singapura ini pun menjawabnya dengan, &#8221; Adalah hak seseorang untuk membuat blog dengan cara apapun dan isi apapun, tapi sebenarnya ada prinsip-prinsip tak tertulis atau aturan sosial yang harus dipatuhi untuk membuat hubungan antar manusia bisa terus berjalan dengan baik&#8221;.</p>
<p>Tak kalah seru, Benny Chandra juga turut ambil peran memberikan komentar perihal fenomena blog apakah merupakan bagian dari jurnalisme ini. &#8220;Ada yang bilang blog adalah bentuk baru jurnalisme, sebaliknya ada juga yang berpendapat blog bukan jurnalisme karena artikelnya singkat-singkat dan terlalu banyak memasukkan unsur-unsur opini pribadi <em>ketimbang </em>objektivitas,&#8221; tandas pria yang juga tergabung dalam Cangkrukan Community, salah satu komunitas blogger di Surabaya ini.</p>
<p>&#8220;Setiap huruf, setiap kata atau setiap kalimat yang kita <em>publish </em>di blog adalah sumbangan bagi kekayaan khasanah pengetahuan di internet khususnya dalam bahasa Indonesia yang relatif masih sangat terbatas, pertanyaannya, maukah anda menyumbang sesuatu?&#8221; pesan terakhir rane saat mengakhiri presentasinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial Narrow';"><a href="http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=3294">http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=3294</a></span></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
</td>
</tr>
</table>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><a href="http://freejournalist.wordpress.com/2006/07/23/tips-masuk-dunia-jurnalistik-1/"></a></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vindre.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vindre.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vindre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vindre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vindre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vindre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vindre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vindre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vindre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vindre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vindre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vindre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vindre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vindre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vindre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vindre.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vindre.wordpress.com&amp;blog=1968899&amp;post=5&amp;subd=vindre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/binformasi-2-dunia-jurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/090c701e878f68fa147db2a8a42888a1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">vindre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>A.	Informasi 1 : Dunia Public Relations</title>
		<link>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/ainformasi-1-dunia-public-relations/</link>
		<comments>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/ainformasi-1-dunia-public-relations/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 04:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vindre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/ainformasi-1-dunia-public-relations/</guid>
		<description><![CDATA[A.    Informasi 1 : Dunia Public Relations +Dunia+PR Kepergian sastrawan Pramoedya Ananta Toer jelas sebuah kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Sebagai WNI yang menetap di Swedia, hati saya berbuih, terguncang bangga dan berharap setiap kali nama Pramoedya disebut-sebut sebagai calon penerima Nobel Sastra. Siapa yang tak bangga bila Indonesia, yang oleh sebagian besar warga Swedia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vindre.wordpress.com&amp;blog=1968899&amp;post=4&amp;subd=vindre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.    Informasi 1 : Dunia Public Relations</strong></p>
<p>+Dunia+PR</p>
<p><span>Kepergian sastrawan Pramoedya Ananta Toer jelas sebuah kehilangan<br />
besar bagi bangsa Indonesia. Sebagai WNI yang menetap di Swedia,<br />
hati saya berbuih, terguncang bangga dan berharap setiap kali nama<br />
Pramoedya disebut-sebut </span>sebagai calon penerima Nobel Sastra.</p>
<p>Siapa yang tak bangga bila Indonesia, yang oleh sebagian besar warga<br />
Swedia dan <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;color:black;">dunia</span></strong> masih dianggap sebagai negara antah berantah,<br />
negara terbelakang dan miskin, sarang teroris, dan sarang korupsi,<br />
ternyata mampu menghasilkan seorang sastrawan kelas <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;color:black;">dunia</span></strong> calon<br />
penerima Nobel Sastra. Sayang, sampai sastrawan besar itu meninggal<br />
<strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;color:black;">dunia</span></strong>, ia tetap dalam posisi calon penerima Nobel.</p>
<p>Bukan hanya Pram, bahkan seorang penulis Swedia terkenal, Astrid<br />
Lindgren, juga tak pernah menerima hadiah Nobel di tanah airnya<br />
sendiri. Padahal, sudah banyak buku dan film anak-anak karya Astrid<br />
yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, di antaranya Pippi si Kaus<br />
Kaki Panjang yang diterbikan oleh PT Gramedia.</p>
<p>Lemahnya penghargaan kita</p>
<p>Lain Pramoedya, lain Astrid. Membandingkan karya keduanya juga tak<br />
pas karena Pram menghasilkan karya sastra berlatar belakang politik,<br />
sedangkan Astrid menghasilkan buku anak-anak. Hanya dalam hal<br />
penghargaan, jelas rakyat dan Pemerintah Swedia sangat bangga dengan<br />
karya- karya Astrid yang mendunia. Sejak ia masih hidup, rakyat<br />
Swedia berpendapat bahwa Astrid layak menerima hadiah Nobel karena<br />
karyanya berhasil membius, menghibur, dan mendidik anak- anak di<br />
<strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;color:black;">dunia</span></strong>. Tapi, rupanya dewan juri hadiah Nobel punya kriteria lain dan<br />
rakyat Swedia pun kecewa.</p>
<p>Bagaimana dengan Pram? Dukungan rakyat dan Pemerintah Indonesia<br />
terhadapnya amat minim. Kenangan tentang Pram bagi sebagian besar<br />
generasi muda bisa jadi hanya sebatas identitasnya sebagai bekas<br />
anggota sebuah organisasi seniman yang berafiliasi ke partai komunis<br />
(Lekra). Ini juga menandakan kegagalan pelajaran sastra dan sejarah<br />
di sekolah-sekolah yang telah terkooptasi oleh fantasi dan ketakutan-<br />
ketakutan akan bangkitnya komunisme sejak zaman Orba.</p>
<p>Rezim boleh berganti, tapi tidak berarti pemerintah yang baru<br />
langsung mendukung Pram. Sebagai generasi muda yang mendambakan<br />
perubahan dalam bernegara, jelas saya amat kecewa dengan hal ini.<br />
Betul, kini karya- karya Pram bisa dinikmati dengan bebas di<br />
Indonesia, tapi apa artinya kalau tak ada sikap dan dukungan resmi<br />
dari pemerintah terhadap karya-karyanya.</p>
<p>Kadang saya melihat adanya ambivalensi pemimpin-pemimpin kita.<br />
Ketika meresmikan pameran hasil kerajinan rakyat, misalnya, sering<br />
kali mereka dengan fasih berpidato bahwa bangsa yang besar adalah<br />
bangsa yang mampu menghargai karya bangsanya. Sayang, hal itu hanya<br />
retorika politik dan terbatas pada kegiatan ekonomi yang mendukung<br />
pemasukan negara.</p>
<p>Sebuah negara dan rakyatnya tak cuma butuh kehidupan ekonomi, tapi<br />
juga kehidupan bersastra, karena sastra mampu menghaluskan perasaan<br />
dari kecenderungan menjadi buas yang ada dalam diri manusia (homo<br />
homini lupus). Sastra mampu menghidupkan empati karena dengan karya<br />
sastra kita bisa berefleksi. Untuk itulah kita perlu sastrawan-<br />
sastrawan yang mampu memberi oase dan nasionalisme kepada rakyat, di<br />
tengah gelombang materialisme dan globalisasi.</p>
<p>Tahun 2003, nama Pram sebagai calon penerima Nobel sangat kencang<br />
berembus di Swedia. Pada tahun itu, Pram mengunjungi pameran buku di<br />
kota Gotenburg atas undangan pihak Swedia. Sebagai mantan wartawan,<br />
saya menyayangkan dan hanya dapat berandai-andai. Seharusnya<br />
Pemerintah Indonesia via KBRI di Swedia mampu menggunakan kesempatan<br />
itu untuk mengorbitkan nama Pram lebih tinggi lagi. Itu kalau Pram<br />
dianggap sebagai aset bangsa. Misalnya, dengan mengundang beliau ke<br />
KBRI, membuat jumpa pers tentang kedatangannya, atau menjadi tuan<br />
rumah yang menjembatani pertemuan Pram dengan kalangan pers Swedia.<br />
Pers bagaimanapun punya kekuatan sebagai alat promosi dan mudah-<br />
mudahan bisa memengaruhi dewan juri hadiah Nobel.</p>
<p>Sebuah ironi jika tamu-tamu dari DPR, misalnya, dilayani bak raja<br />
hanya dengan menggunakan kedok studi banding. Di sisi lain, seorang<br />
sastrawan besar macam Pram diacuhkan begitu saja. Rekonsiliasi<br />
bangsa tidak akan berjalan jika barrier dan keterikatan dengan masa<br />
lalu itu tak juga dibenahi.</p>
<p>Diplomasi buku</p>
<p>Bukan rahasia bahwa kelemahan bangsa Indonesia ada di bidang<br />
pemasaran (marketing) dan PR (<strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;color:black;">public </span><span style="background:#99ff99 none repeat scroll 0 50%;color:black;">relation</span></strong>). Padahal, apa sih,<br />
yang tidak kita punya?</p>
<p>Bagi saya, tidak ada yang tidak mungkin, semua terletak pada niat<br />
baik dan kekompakan kita sebagai bangsa. Sebagai bangsa kita memang<br />
kurang kreatif menggunakan sumber-sumber potensial yang ada. Salah<br />
satu sumber itu adalah Pramoedya Ananta Toer.</p>
<p>Bayangkanlah, kalau saja Pram mendapat hadiah Nobel sastra, berapa<br />
besar liputan dan efek PR yang dihasilkan untuk Indonesia? Nama Pram<br />
dan Indonesia bukan saja diulas dalam media internasional, tapi juga<br />
akan selalu disebut di sekolah-sekolah di seluruh <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;color:black;">dunia</span></strong>, terutama<br />
dalam pelajaran sastra dan bahasa. Efeknya pasti dahsyat dan abadi.</p>
<p>Efek inilah yang menurut pengamatan saya sama sekali tidak disadari<br />
oleh kita, bangsa Indonesia. Kita terlalu asyik bertengkar satu sama<br />
lain untuk memperebutkan kursi dan rezeki sehingga lupa menggali<br />
potensi diri. Andai saja kita pintar, sesungguhnya buku dan karya<br />
sastra bisa dijadikan alat PR dan diplomasi.</p>
<p>Sayang sekali, seorang Pram lebih dihargai di negara lain daripada<br />
di Tanah Airnya sendiri. Tetangga terdekat kita saja, Filipina,<br />
sudah lebih dulu menghargainya dengan penghargaan Magsaysay (2003).<br />
Seharusnya kita malu. Mari bertanya, ada apa dengan kita? Apa yang<br />
sakit dari bangsa ini? Kalau kita bisa berekonsiliasi dengan<br />
koruptor dan mengundangnya ke istana, kenapa seorang Pram tidak<br />
pernah diberikan kesempatan untuk itu sekalipun?</p>
<p>Padahal jelas, Pram tidak pernah &#8220;menjual&#8221; bangsa dan sumber alam<br />
Indonesia untuk kantong pribadi dan kroninya serta menenggelamkan<br />
Indonesia ke dalam utang luar negeri yang harus dibayar oleh anak<br />
cucu kita kelak. Siapa yang lebih jahat sesungguhnya?</p>
<p>Selamat jalan Pram, semoga kau temukan keadilan lain di sana.</p>
<p>Nina Mussolini-Hansson Ibu Rumah Tangga dan Mantan Wartawan, Tinggal<br />
di Swedia</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/03/opini/2626944.htm" target="_blank">http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/03/opini/2626944.htm</a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Arial Narrow';">google, 05.11.07 08:46</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<h1><span style="font-size:12pt;">&#8230;Dunia Baru&#8230;</span></h1>
<p>+dunia+PR</p>
<p style="margin-bottom:0.0001pt;">Setelah ditugaskan di bagian marketing communication, saya banyak mencari buku yang ada kaitannya dengan humas dan marketing. Lumayan banyak buku yang saya beli. Salah satunya adalah yang ingin juga saya tawarkan ke teman-teman. Judulnya, “Public Relation, pendekatan teoritis dan praktis”. </p>
<p style="margin-bottom:0.0001pt;">Bagi rekan-rekan yang berkecimpung atau tertarik dengan dunia Public Relation, buku ini sangat relevan dan patut dimiliki. Bahasannya komprehensif. Tidak sekadar untuk menambah pengetahuan teoritis ke-PR-an, buku ini juga dirancang untuk meningkatkan keterampilan tulis menulis. Bahkan, pengarang buku ini juga menyinggung cara-cara menulis dan menerbitkan buku.</p>
<p style="margin-bottom:0.0001pt;">Bagi yang berminat, akan saya beritahu no. rekening utk transfer pembayaran. Hubungi saya di 0852-164 27 127. Bisa juga via email (<a href="mailto:mochusni@yahoo.com">mochusni@yahoo.com</a>). </p>
<p style="margin-bottom:0.0001pt;">Judul: Public Relation Writing: Pendekatan Teoritis dan Praktis</p>
<p style="margin-bottom:0.0001pt;">Pengarang: Dr.Yosal Iriantara dan A. Yani Surachman, S.Sos.</p>
<p style="margin-bottom:0.0001pt;">Penerbit: Simbiosa Rekatama Media </p>
<p style="margin-bottom:0.0001pt;">Tahun terbit: Desember 2006</p>
<p style="margin-bottom:0.0001pt;">Jumlah halaman: 244 + viii</p>
<p style="margin-bottom:0.0001pt;">Harga: Rp. 40 ribu. (Di luar jakarta, plus ongkos kirim Rp 5.000)</p>
<p style="margin-bottom:0.0001pt;">Bagian I: Pendekatan Teoritis</p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:5pt 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]-->(1) Pendahuluan (proses PR, media relations, menulis dalam konteks PR, PR writing dan komponen komunikasi)</p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:5pt 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]-->(2) Strategi PR Writing (model komunikasi korporat, identifikasi permasalahan, Menetapkan Tujuan, (analisis khalayak sasaran, memilih media, strategi pers, evaluasi)</p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:5pt 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]-->(3) Teknik Penulisan (hakikat komunikasi tertulis, proses komunikasi tertulis, menyusun komunikasi tertulis)</p>
<p style="margin-bottom:0.0001pt;">Bagian II: Pendekatan Praktis</p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:5pt 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]-->(1) Menulis Siaran Pers (pengertian berita, nilai berita, anatomi berita, teknik menulis berita)</p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:5pt 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]-->(2) Menulis Artikel (definisi artikel, jenis-jenis artikel, tujuan artikel, anatomi artikel, teknis penulisan artikel)</p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:5pt 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]-->(3) Menulis Advertorial (pengertian advertorial, jenis dan sifat advertorial, fungsi dan tujuan advertorial, anatomi advertorial, teknik advertorial)</p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:5pt 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]-->(4) Menulis Naskah Brosur (pengertian brosur, jenis-jenis brosur, merancang brosur, naskah brosur)</p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:5pt 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]-->(5) Menulis / Membalas Surat Pembaca </p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:5pt 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]-->(6) Menulis Naskah Pidato (pengertian pidato, jenis-jenis pidato, tujuan pidato, teknik penulisan naskah pidato)</p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:5pt 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]-->(7) Menulis Buku (jenis-jenis buku organisasi, skema penerbitan, langkah-langkah menulis buku)</p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:5pt 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]-->(8) Beberapa saran PR Writing </p>
<h1><span style="font-size:10pt;"><a href="http://mochusni.multiply.com/journal/item/67/Humas_PR_dan_Tulis_Menulis">http://mochusni.multiply.com/journal/item/67/Humas_PR_dan_Tulis_Menulis</a></span></h1>
<h1><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">google,05.11.07 08.52</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<h1><span class="konten"><span style="font-size:12pt;">”Public Relation” = Diplomasi Publik</span></span></h1>
<p>+Dunia+PR</p>
<p>Orang-orang di Indonesia dan seluruh dunia saat ini berjalan menuju ke masa depan dengan berbagai perasaan yang bercampur-aduk antara keingintahuan, optimisme, posimisme dan kekhawatiran.<br />
Bagaimanapun juga, tantangan yang bakal kita hadapi di depan bukanlah yang pertama kali maupun tidak mungkin tidak kita hadapi. Salah satu karakteristik dunia adalah interconnectedness (saling terkait) atau interdependence (saling ketergantungan). Bahkan orang yang menentang nilai globalisasi pun setuju bahwa karakter dominan dari dunia kita adalah saling ketergantungan.<br />
Rober W Grupp, Ketua International Public Relations Association (IPRA), mengatakan  “Using Public Relations to Foster a Culture of Collaboration”. IPRA yang didirikan pada tahun 1955, para profesional PR dunia sepakat dalam rangka menggunakan skill komunikasi profesional yang mereka miliki untuk membuat dunia bersatu kembali setelah Perang Dunia II, baik secara geografis, cultural dan ekonomis.<br />
Namun maksudnya bukan diplomat publik secara resmi. Diplomat publik pengertian dalam hal ini melakukan tindakan yang memanfaatkan skill komunikasi dan menjalin hubungan untuk membangun rasa hormat antar sesama, kebudayaan serta dapat memberikan kontribusi kepada publik dalam dunia yang sudah berubah secara dramatis.<br />
Inilah yang seharusnya dilakukan oleh para professional PR saat ini, menjadi diplomat publik. Bukan diplomat resmi seperti dalam konteks diplomasi antar negara, melainkan diplomat sehari-hari baik dalam pekerjaan maupun bisnis untuk tujuan publik.</p>
<p><a href="http://batampos.co.id/content/view/31247/98/">http://batampos.co.id/content/view/31247/98/</a></p>
<p>google,05.11.07 09.00</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<h1><span style="font-size:12pt;">Kunci Public Relations masa depan adalah Partisipasi, bukan Pitching</span></h1>
<p>+Dunia+PR</p>
<p>Setelah lama tidak terjun dalam kapasitas sebagai Professor PR and Journalism, WW menerima undangan <strong>Lembaga Manajemen PPM</strong> untuk mengisi sesi kursus &#8220;Menjadi PR andal dengan mempertajam kompetensi&#8221;. Lima puluh orang praktisi PR dari BTN, Astra Mitra Ventura, <a href="http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=615">Indosat</a>, Suara Merdeka, Aneka Tambang dan lainnya mengikuti presentasi Indira Abidin, Sutji Lantyka, <a href="http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=685">Farhan</a> dan Wimar Witoelar.</p>
<p>Dengan meninggalkan kostum dan lawakan yang biasa menjadi cirinya WW tampil serius dengan materi <strong>&#8216;Leveraging PR Competence&#8217;</strong>. Tapi sesekali terdengar juga tawa dari deretan peserta menanggapi humor yang tetap masuk dalam contoh-contoh kasus PR yang memang lucu.</p>
<p>Secara garis besar, dalam materinya WW menggambarkan area kompetensi PR yaitu &#8216;positioning, personality, proposition&#8217; sesuai buku Tom Brannan <strong>&#8216;Integrated Marketing Communication&#8217;</strong>. Dalam hal &#8216;positioning&#8217;, PR dituntut untuk menetapkan posisi klien. Hal ini membutuhkan kemampuan strategic analysis yang baik. Sementara itu, kompetensi di bidang personality diperlukan untuk mendefinisikan image dari klien yang akan dibawakan kepada publik. Terakhir adalah proposition dalam bentuk langkah konkrit Integrated Communication membangun image di tengah masyarakat. Tiga hal dasar yang harus dipikirkan adalah penetapan &#8216;key messages&#8217; yang mudah diingat oleh masyarakat, penetapan &#8216;target market&#8217; dan yang terakhir adalah menentukan media yang akan digunakan.</p>
<h1><span style="font-size:12pt;"><a href="http://www.perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=695">http://www.perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=695</a></span></h1>
<h1><span style="font-size:12pt;">google,</span><span style="font-size:12pt;">11/5/2007</span><span style="font-size:12pt;"> 9:</span><span style="font-size:12pt;">02:54</span></h1>
<h1><span style="font-size:12pt;">Apa hubungan astronot, public relations (PR), dan politik? Miranty Abidin jawabannya. Lho?</span></h1>
<p>+Dunia+PR</p>
<h1><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Ya, Presiden Direktur Fortune Public Relations ini memang menjadi simpul ketiga bidang berbeda tersebut. Miranty pernah dinobatkan sebagai calon astronot bersama Bambang Harimurty, Pratiwi Sudharmono dan Akbar. Lantas, dia malang melintang di dunia public relations sejak 1970-an. Belakangan, dia terjun ke politik sejak Orde Baru runtuh dengan bergabung ke Partai Amanat Nasional dan menjadi salah satu Ketua Dewan Pemimpin Pusat partai berlambang matahari terbit itu.</p>
<p>Bukan bermaksud mengecewakan dosen yang menyanyanginya, Prof Nurhadi di Institut Teknologi </span><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Bandung</span><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">, jika lantas Miranty menolak jadi astronot dan memilih karir di jalur komunikasi. Akan tetapi, dengarlah penuturannya. “Saya lebih memilih aktivitas yang berdinamika tinggi seperti waktu mahasiswa, dibanding bidang riset penelitian,” kata ibu tiga anak hasil perkawinannya dengan Indra Abidin tersebut. Dosennya di ITB itu adalah salah satu dosen yang menyayangi Miranty karena prestasinya di kelas. Miranty tercatat pernah berhasil melakukan penelitian dengan membuat kultur jaringan sebuah tanaman tembakau yang membuahkan pohon tembakau lainnya. Persis seperti sistem kloning yang dikenal sekarang. Ini adalah prestasi yang disebut Miranty, tidak pernah tercipta selama 13 tahun.</p>
<p>Di bidang yang dipilih kemudian, yakni komunikasi, perempuan yang lahir 55 tahun lalu di Subang ini akhirnya juga berprestasi gemilang. Pengalamannya yang panjang di dunia PR telah mengantarkan PT Fortune Pramana Rancang yang dipimpinnya sejak 1989 menjadi lembaga komunikasi yang disegani dalam dunia pencipta kesan dan hubungan emosional ini.</span></h1>
<h1><span style="font-size:10pt;"><a href="http://cdc.eng.ui.ac.id/article/articleview/465/1/26/">http://cdc.eng.ui.ac.id/article/articleview/465/1/26/</a></span><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;"></span></h1>
<h1><span style="font-size:12pt;">google, </span><span style="font-size:12pt;">11/5/2007</span><span style="font-size:12pt;"> 9:</span><span style="font-size:12pt;">06:29</span><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;"></span></h1>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vindre.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vindre.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vindre.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vindre.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vindre.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vindre.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vindre.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vindre.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vindre.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vindre.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vindre.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vindre.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vindre.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vindre.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vindre.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vindre.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vindre.wordpress.com&amp;blog=1968899&amp;post=4&amp;subd=vindre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vindre.wordpress.com/2007/11/05/ainformasi-1-dunia-public-relations/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/090c701e878f68fa147db2a8a42888a1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">vindre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tulisan 1</title>
		<link>http://vindre.wordpress.com/2007/10/23/tulisan-1/</link>
		<comments>http://vindre.wordpress.com/2007/10/23/tulisan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Oct 2007 01:34:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vindre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vindre.wordpress.com/2007/10/23/tulisan-1/</guid>
		<description><![CDATA[ini posting saya yng pertama<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vindre.wordpress.com&amp;blog=1968899&amp;post=3&amp;subd=vindre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ini posting saya yng pertama</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vindre.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vindre.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vindre.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vindre.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vindre.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vindre.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vindre.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vindre.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vindre.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vindre.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vindre.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vindre.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vindre.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vindre.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vindre.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vindre.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vindre.wordpress.com&amp;blog=1968899&amp;post=3&amp;subd=vindre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vindre.wordpress.com/2007/10/23/tulisan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/090c701e878f68fa147db2a8a42888a1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">vindre</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
